Agama Buddha
Agama Buddha adalah sebuah agama
dan filsafat yang berasal dari anak benua India dan meliputi beragam tradisi
kepercayaan, dan praktik yang sebagian besar berdasarkan pada ajaran yang
dikaitkan dengan Siddhartha Gautama, yang secara umum dikenal sebagai Sang
Buddha (berarti “yang telah sadar” dalam bahasa Sanskerta dan Pali). Sang
Buddha hidup dan mengajar di bagian timur anak benua India dalam beberapa waktu
antara abad ke-6 sampai ke-4 SEU (Sebelum Era Umum). Dia dikenal oleh para umat
Buddha sebagai seorang guru yang telah sadar atau tercerahkan yang membagikan
wawasan-Nya untuk membantu makhluk hidup mengakhiri ketidaktahuan/kebodohan
(avidyā), kehausan/napsu rendah (taṇhā), dan penderitaan (dukkha), dengan
menyadari sebab musabab saling bergantungan dan sunyatam dan mencapai Nirvana
(Pali: Nibbana).
Setiap aliran Buddha berpegang
kepada Tripitaka sebagai Referensi utama karena dalamnya tercatat sabda dan
ajaran Buddha Gautama. Pengikut-pengikutnya kemudian mencatat dan
mengklasifikasikan ajarannya dalam 3 buku yaitu Sutta Piṭaka (kotbah-kotbah
Sang Buddha), Vinaya Piṭaka (peraturan atau tata tertib para bhikkhu) dan
Abhidhamma Piṭaka (ajaran hukum metafisika dan psikologi).
Konsep Ketuhanan
dalam Buddhisme
Moral dalam
Buddhisme
Aliran Buddha
Buddha Mahayana
Buddha Theravada
4. Ajaran Buddhisme
Empat Kebenaran
Mulia
Jalan Mulia
Berunsur Delapan
5.Hari Raya
Waisak
Kathina
Asadha
Magha Puja
6.Penyebaran di Asia dan
Indonesia
Penyebaran di
India dan Asia Tengah
Penyebaran di
Asia Timur
Penyebaran di
Asia Tenggara
Penyebaran di
Nusantara
Akhir zaman
kerajaan Hindu-Buddha
Candi-Candi
Peninggalan Kerajaan Buddha di Nusantara
7.Lihat pula
8.Pranala luar
9.Referensi
Konsep Ketuhanan dalam Buddhisme
Perlu ditekankan bahwa Buddha
bukan Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep dalam
agama Samawi dimana alam semesta diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari
hidup manusia adalah kembali ke surga ciptaan Tuhan yang kekal.
“Ketahuilah para bhikkhu bahwa
ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta,
Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang
Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin
kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab
yang lalu. Tetapi para bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak
Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas
dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.”
Ungkapan di atas adalah
pernyataan dari Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Udana VIII : 3, yang
merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang
Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang
yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak
Diciptakan dan Yang Mutlak". Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah
suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang
tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak,
yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat
mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.
Dengan membaca konsep Ketuhanan
Yang Maha Esa ini, kita dapat melihat bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha
adalah berlainan dengan konsep Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain.
Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, sebab masih
banyak umat Buddha yang mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha
dengan konsep Ketuhanan menurut agama-agama lain sehingga banyak umat Buddha
yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama dengan
konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain.
Bila kita mempelajari ajaran
agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tripitaka, maka bukan hanya
konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi
banyak konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang
berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep
tentang alam semesta, terbentuknya Bumi dan manusia, kehidupan manusia di alam
semesta, kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan.
Di dalam agama Buddha tujuan
akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau
pencerahan sejati dimana satu makhluk tidak perlu lagi mengalami proses
tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada
pengaruhnya. Tidak ada dewa - dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha
sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu,
dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai
pencerahan rohani, dan melihat kebenaran & realitas sebenar-benarnya.
Moral dalam Buddhisme[sunting |
sunting sumber]
Sebagai mana agama Kristen,
Islam, dan Hindu ajaran Buddha juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemoralan.
Nilai-nilai kemoralan yang diharuskan untuk umat awam umat Buddha biasanya
dikenal dengan Pancasila. Kelima nilai-nilai kemoralan untuk umat awam adalah:
Panatipata Veramani Sikkhapadam
Samadiyami
Adinnadana Veramani Sikkhapadam
Samadiyami
Kamesu Micchacara Veramani
Sikhapadam
Musavada Veramani Sikkhapadam
Samadiyami
Surameraya Majjapamadatthana
Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Yang artinya:
Aku bertekad akan melatih diri
menghindari pembunuhan makhluk hidup.
Aku bertekad akan melatih diri
menghindari pencurian/mengambil barang yang tidak diberikan.
Aku bertekad akan melatih diri
menghindari melakukan perbuatan asusila
Aku bertekad akan melatih diri
menghindari melakukan perkataan dusta
Aku bertekad akan melatih diri
menghindari makanan atau minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran
Selain nilai-nilai moral di atas,
agama Buddha juga amat menjunjung tinggi karma sebagai sesuatu yang berpegang
pada prinsip sebab akibat. Kamma (bahasa Pali) atau Karma (bahasa Sanskerta)
berarti perbuatan atau aksi. Jadi ada aksi atau karma baik dan ada pula aksi
atau karma buruk. Saat ini, istilah karma sudah terasa umum digunakan, namun cenderung
diartikan secara keliru sebagai hukuman turunan/hukuman berat dan lain
sebagainya. Guru Buddha dalam Nibbedhika Sutta; Anguttara Nikaya 6.63
menjelaskan secara jelas arti dari kamma:
”Para bhikkhu, cetana
(kehendak)lah yang kunyatakan sebagai kamma. Setelah berkehendak, orang
melakukan suatu tindakan lewat tubuh, ucapan atau pikiran.”
Jadi, kamma berarti semua jenis
kehendak (cetana), perbuatan yang baik maupun buruk/jahat, yang dilakukan oleh
jasmani (kaya), perkataan (vaci) dan pikiran (mano), yang baik (kusala) maupun
yang jahat (akusala).
Kamma atau sering disebut sebagai
Hukum Kamma merupakan salah satu hukum alam yang berkerja berdasarkan prinsip
sebab akibat. Selama suatu makhluk berkehendak, melakukan kamma (perbuatan)
sebagai sebab maka akan menimbulkan akibat atau hasil. Akibat atau hasil yang
ditimbulkan dari kamma disebut sebagai Kamma Vipaka.
Aliran Buddha
Ada beberapa aliran dalam agama
Buddha:
Buddha Theravada
Buddha Mahayana: Zen
Buddha Vajrayana
Buddha Mahayana[sunting | sunting
sumber]
!Artikel utama untuk bagian ini
adalah: Buddha Mahayana
Patung Buddha Tian Tan. Vihara Po
Lin, pulau Lantau, Hong Kong
Sutra Teratai merupakan Referensi
sampingan penganut Buddha aliran Mahayana. Tokoh Kwan Im yang bermaksud
"maha mendengar" atau nama Sansekertanya "Avalokiteśvara"
merupakan tokoh Mahayana dan dipercayai telah menitis beberapa kali dalam alam
manusia untuk memimpin umat manusia ke jalan kebenaran. Dia diberikan
sifat-sifat keibuan seperti penyayang dan lemah lembut. Menurut sejarahnya
Avalokitesvara adalah seorang lelaki murid Buddha, akan tetapi setelah pengaruh
Buddha masuk ke Tiongkok, profil ini perlahan-lahan berubah menjadi sosok
feminin dan dihubungkan dengan legenda yang ada di Tiongkok sebagai seorang
dewi.
Penyembahan kepada Amitabha
Buddha (Amitayus) merupakan salah satu aliran utama Buddha Mahayana. Surga
Barat merupakan tempat tujuan umat Buddha aliran Sukhavati selepas mereka
meninggal dunia dengan berkat kebaktian mereka terhadap Buddha Amitabha dimana
mereka tidak perlu lagi mengalami proses reinkarnasi dan dari sana menolong
semua makhluk hidup yang masih menderita di bumi.
Mereka mempercayai mereka akan
lahir semula di Sorga Barat untuk menunggu saat Buddha Amitabha memberikan
khotbah Dhamma dan Buddha Amitabha akan memimpin mereka ke tahap mencapai
'Buddhi' (tahap kesempurnaan dimana kejahilan, kebencian dan ketamakan tidak
ada lagi). Ia merupakan pemahaman Buddha yang paling disukai oleh orang
Tionghoa.
Seorang Buddha bukannya dewa atau
makhluk suci yang memberikan kesejahteraan. Semua Buddha adalah pemimpin segala
kehidupan ke arah mencapai kebebasan daripada kesengsaraan. Hasil amalan ajaran
Buddha inilah yang akan membawa kesejahteraan kepada pengamalnya.
Menurut Buddha Gautama ,
kenikmatan Kesadaran Nirwana yang dicapainya di bawah pohon Bodhi, tersedia
kepada semua makhluk apabila mereka dilahirkan sebagai manusia. Menekankan
konsep ini, aliran Buddha Mahayana khususnya merujuk kepada banyak Buddha dan
juga bodhisattva (makhluk yang tekad "committed" pada Kesadaran
tetapi menangguhkan Nirvana mereka agar dapat membantu orang lain pada jalan
itu). Dalam Tipitaka suci - intipati teks suci Buddha - tidak terbilang Buddha
yang lalu dan hidup mereka telah disebut "spoken of", termasuk Buddha
yang akan datang, Buddha Maitreya
Buddha Theravada
Aliran Theravada adalah aliran
yang memiliki sekolah Buddha tertua yang tinggal sampai saat ini, dan untuk
berapa abad mendominasi Sri Langka dan wilayah Asia Tenggara (sebagian dari
Tiongkok bagian barat daya, Kamboja, Laos, Myanmar, Malaysia, Indonesia dan
Thailand) dan juga sebagian Vietnam. Selain itu populer pula di Singapura dan
Australia.
Gramatika
Theravada berasal dari bahasa
Pali yang terdiri dari dua kata yaitu thera dan vada. Thera berarti sesepuh
khususnya sesepuh terdahulu , dan vada berarti perkataan atau ajaran. Jadi
Theravada berarti Ajaran Para Sesepuh.
Istilah Theravada muncul sebagai
salah satu aliran agama Buddha dalam Dipavamsa, catatan awal sejarah Sri Lanka
pada abad ke-4 Masehi. Istilah ini juga tercatat dalam Mahavamsa, sebuah
catatan sejarah penting yang berasal dari abad ke-5 Di yakini Theravada
merupakan wujud lain dari salah satu aliran agama Buddha terdahulu yaitu
Sthaviravada (Bahasa Sanskerta: Ajaran Para Sesepuh) , sebuah aliran agama
Buddha awal yang terbentuk pada Sidang Agung Sangha ke-2 (443 SM). Dan juga
merupakan wujud dari aliran Vibhajjavada yang berarti Ajaran Analisis (Doctrine
of Analysis) atau Agama Akal Budi (Religion of Reason).
Sejarah
Sejarah Theravada tidak lepas
dari sejarah Buddha Gautama sebagai pendiri agama Buddha. Setelah Sang Buddha
parinibbana (543 SM), tiga bulan kemudian diadakan Sidang Agung Sangha (Sangha
Samaya).
Diadakan pada tahun 543 SM (3
bulan setelah bulan Mei), berlangsung selama 2 bulan Dipimpin oleh Y.A. Maha
Kassapa dan dihadiri oleh 500 orang Bhikkhu yang semuanya Arahat. Sidang
diadakan di Goa Satapani di kota Rajagaha. Sponsor sidang agung ini adalah Raja
Ajatasatu. Tujuan Sidang adalah menghimpun Ajaran Sang Buddha yang diajarkan
kepada orang yang berlainan, di tempat yang berlainan dan dalam waktu yang
berlainan. Mengulang Dhamma dan Vinaya agar Ajaran Sang Buddha tetap murni,
kuat, melebihi ajaran-ajaran lainnya. Y.A. Upali mengulang Vinaya dan Y.A.
Ananda mengulang Dhamma.
Sidang Agung Sangha ke-2, pada
tahun 443 SM , dimana awal Buddhisme mulai terbagi menjadi 2. Di satu sisi
kelompok yang ingin perubahan beberapa peraturan minor dalam Vinaya, di sisi
lain kelompok yang mempertahankan Vinaya apa adanya. Kelompok yang ingin
perubahan Vinaya memisahkan diri dan dikenal dengan Mahasanghika yang merupakan
cikal bakal Mahayana. Sedangkan yang mempertahankan Vinaya disebut
Sthaviravada.
Sidang Agung Sangha ke-3 (313
SM), Sidang ini hanya diikuti oleh kelompok Sthaviravada. Sidang ini memutuskan
untuk tidak mengubah Vinaya, dan Moggaliputta Tissa sebagai pimpinan sidang
menyelesaikan buku Kathavatthu yang berisi penyimpangan-penyimpangan dari
aliran lain. Saat itu pula Abhidhamma dimasukkan. Setelah itu ajaran-ajaran ini
di tulis dan disahkan oleh sidang. Kemudian Y.M. Mahinda (putra Raja Asoka)
membawa Tipitaka ini ke Sri Lanka tanpa ada yang hilang sampai sekarang dan
menyebarkan Buddha Dhamma di sana. Di sana ajaran ini dikenal sebagai
Theravada.
Kitab suci Buddhisme
Kitab Suci yang dipergunakan
dalam agama Buddha Theravada adalah Kitab Suci Tripitaka yang dikenal sebagai
Kanon Pali (Pali Canon). Kitab suci Agama Buddha yang paling tua, yang
diketahui hingga sekarang, tertulis dalam Bahasa Pali/Magadhi Kuno, yang
terbagi dalam tiga kelompok besar (yang disebut sebagai "pitaka" atau
"keranjang") yaitu: Vinaya Pitaka, Sutta Piṭaka, dan Abhidhamma
Pitaka. Karena terdiri dari tiga kelompok tersebut, maka Kitab Suci Agama
Buddha dinamakan Tipitaka (Pali).
Ajaran Buddhisme
Empat Kebenaran Mulia
Ajaran dasar Buddhisme dikenal
sebagai Empat Kebenaran Mulia, yang meliputi:
Dukkha Ariya Sacca (Kebenaran
Arya tentang Dukkha),
Dukha ialah penderitaan. Dukha
menjelaskan bahwa ada lima pelekatan kepada dunia yang merupakan penderitaan.
Kelima hal itu adalah kelahiran, umur tua, sakit, mati, disatukan dengan yang
tidak dikasihi, dan tidak mencapai yang diinginkan.
Dukkha Samudaya Ariya Sacca
(Kebenaran Ariya tentang Asal Mula Dukkha),
Samudaya ialah sebab. Setiap
penderitaan pasti memiliki sebab, contohnya: yang menyebabkan orang dilahirkan
kembali adalah adanya keinginan kepada hidup.
Dukkha Nirodha Ariya Sacca
(Kebenaran Ariya tentang Terhentinya Dukkha),
Nirodha ialah pemadaman.
Pemadaman kesengsaraan dapat dilakukan dengan menghapus keinginan secara
sempurna sehingga tidak ada lagi tempat untuk keinginan tersebut.
Dukkha Nirodha Ariya Sacca
(Kebenaran Ariya tentang Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha).
Marga ialah jalan kelepasan.
Jalan kelepasan merupakan cara-cara yang harus ditempuh kalau kita ingin lepas
dari kesengsaraan. Delapan jalan kebenaran akan dibahas lebih mendalam pada
pokok pembahasan yang selanjutnya.
Inti ajaran Buddha menjelaskan
bahwa hidup adalah untuk menderita. Jika di dunia ini tidak ada penderitaan,
maka Buddha pun tidak akan menjelma di dunia. Semua hal yang terjadi pada
manusia merupakan wujud dari penderitaan itu sendiri. Saat hidup, sakit,
dipisahkan dari yang dikasihi dan lain-lain, merupakan wujud penderitaan
seperti yang sudah dijelaskan diatas. Bahkan kesenangan yang dialami manusia,
dianggap sebagai sumber penderitaan karena tidak ada kesenangan yang kekal di
dunia ini. Kesenangan atau kegirangan bergantung kepada ikatannya dengan sumber
kesenangannya itu, padahal sumber kesenangan tadi berada di luar diri manusia.
Sumber itu tidak mungkin dipengang atau diraba oleh manusia, karena tidak ada
sesuatu yang tetap berada. Semua penderitaan disebabkan karena kehausan. Untuk
menerangkan hal ini diajarkanlah yang disebut pratitya samutpada, artinya pokok
permulaan yang bergantungan. Setiap kejadian pasti memiliki keterkaitan dengan
pokok permulaan yang sebelumnya. Ada 12 pokok permulaan yang menjadi fokus
pratitya samutpada.
Jalan Mulia Berunsur Delapan
Agar terlepas dari penderitaan
mereka mereka harus melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu:
1. Pengertian Benar (Sammã
Ditthi) Pemahaman Benar adalah pengetahuan yang disertai dengan penembusan
terhadap
a. Empat Kesunyataan Mulia
b. Hukum Tilakkhana (Tiga Corak
Umum)
c. Hukum Paticca-Samuppäda
d. Hukum Kamma
2. Pikiran Benar (Sammã Sankappa)
Pikiran Benar adalah pikiran yang bebas dari:
a. Pikiran yang bebas dari
nafsu-nafsu keduniawian (nekkhamma-sankappa).
b. Pikiran yang bebas dari
kebencian (avyäpäda-sankappa)
c. Pikiran yang bebas dari
kekejaman (avihimsä-sankappa)
3. Ucapan Benar (Sammã Vãca)
Ucapan Benar adalah berusaha menahan diri dari berbohong (musãvãdã), memfitnah
(pisunãvãcã), berucap kasar/caci maki (pharusavãcã), dan percakapan-percakapan
yang tidak bermanfaat/pergunjingan (samphappalãpã). Dapat dinamakan Ucapan
Benar, jika dapat memenuhi empat syarat di bawah ini :
a. Ucapan itu benar
b. Ucapan itu beralasan
c. Ucapan itu berfaedah
d. Ucapan itu tepat pada waktunya
4. Perbuatan Benar (Sammã
Kammantã) Perbuatan Benar adalah berusaha menahan diri dari pembunuhan,
pencurian, perbuatan melakukan perbuatan seksualitas yang tidak dibenarkan
(asusila), perkataan tidak benar, dan penggunaan cairan atau obat-obatan yang
menimbulkan ketagihan dan melemahkan kesadaran.
5. Penghidupan Benar (Sammã
Ãjiva) Penghidupan Benar berarti menghindarkan diri dari bermata pencaharian
yang menyebabkan kerugian atau penderitaan makhluk lain. "Terdapat lima
objek perdagangan yang seharusnya dihindari (Anguttara Nikaya, III, 153),
yaitu:
a. makhluk hidup
b. senjata
c. daging atau segala sesuatu
yang berasal dari penganiayaan mahluk-mahluk hidup
d. minum-minuman yang memabukkan
atau yang dapat menimbulkan ketagihan,
e. racun
Dan terdapat pula lima
pencaharian salah yang harus dihindari (Majjima Nikaya. 117), yaitu:
a. Penipuan
b. Ketidak-setiaan
c. Penujuman
d. Kecurangan
e. Memungut bunga yang tinggi
(praktek lintah darat)
6. Usaha Benar (Sammã Vãyama)
Usaha Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu: berusaha
mencegah munculnya kejahatan baru, berusaha menghancurkan kejahatan yang sudah
ada, berusaha mengembangkan kebaikan yang belum muncul, berusaha memajukan
kebaikan yang telah ada.
7. Perhatian Benar (Sammã Sati)
Perhatian Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu:
- perhatian penuh terhadap badan
jasmani (kãyãnupassanã)
- perhatian penuh terhadap
perasaan (vedanãnupassanã)
- perhatian penuh terhadap
pikiran (cittanupassanã)
- perhatian penuh terhadap
mental/batin (dhammanupassanã)
Keempat bentuk tindakan tersebut
bisa disebut sebagai Vipassanã Bhãvanã.
8. Konsentrasi Benar (Sammã
Samãdhi) Konsentrasi Benar berarti pemusatan pikiran pada obyek yang tepat
sehingga batin mencapai suatu keadaan yang lebih tinggi dan lebih dalam.
Semadi itu sendiri terbagi
menjadi 2 bagian yaitu persiapan atau upcara semadi dan semadinya sendiri.
Persiapan atau upacara semadi ini maksudnya kita harus merenungi kehidupan
dalam agamannya seperti 7 jalan kebenaran yang dibahas tadi dengan empat
bhawana,yaitu: metta (persahabatan yang universal), karuna (belas kasih yang
universal), mudita (kesenangan dalam keuntungan dan akan segala sesuatu), dan
upakkha (tidak tergerak oleh apa saja yang menguntungkan diri sendiri, teman,
musuh dan sebagainya. Sesudah merenungkan hal-hal tersebut barulah masuk
kedalam semadi yang sebenarnya dalam 4 tingkatan yaitu: mengerti lahir dan
batinnya, mendapatkan damai batiniahnya, menghilangkan kegirangannya sehingga
menjadi orang yang tenang, sampai akhirnya sukha dan dukha lenyap dari
semuanya, dan rasa hatinya disudikan. Dengan demikianlah orang sampai pada
kelepasan dari penderitaan.
Secara umum sama dengan aliran
agama Buddha lainnya, Theravada mengajarkan mengenai pembebasan akan dukkha
(penderitaan) yang ditempuh dengan menjalankan sila (kemoralan), samadhi
(konsentrasi) dan panna (kebijaksanaan).
Agama Buddha Theravada hanya
mengakui Buddha Gautama sebagai Buddha sejarah yang hidup pada masa sekarang.
Meskipun demikian Theravada mengakui pernah ada dan akan muncul Buddha-Buddha
lainnya.
Dalam Theravada terdapat 2 jalan
yang dapat ditempuh untuk mencapai Pencerahan Sempurna yaitu Jalan Arahat
(Arahatship) dan Jalan Kebuddhaan (Buddhahood).
Hari Raya
Terdapat empat hari raya besar
dalam Agama Buddha. Namun satu-satunya yang dikenal luas masyarakat adalah Hari
Raya Trisuci Waisak, sekaligus satu-satunya hari raya umat Buddha yang dijadikan
hari libur nasional Indonesia setiap tahunnya.
Waisak
Penganut Buddha merayakan Hari
Waisak yang merupakan peringatan 3 peristiwa. Yaitu, hari kelahiran Pangeran
Siddharta (nama sebelum menjadi Buddha), hari pencapaian Penerangan Sempurna
Pertapa Gautama, dan hari Sang Buddha wafat atau mencapai Nibbana/Nirwana. Hari
Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha Purnima di India,
Vesak di Malaysia dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak di Sri
Lanka. Nama ini diambil dari bahasa Pali "Wesakha", yang pada
gilirannya juga terkait dengan "Waishakha" dari bahasa Sanskerta
Kathina
Hari raya Kathina merupakan
upacara persembahan jubah kepada Sangha setelah menjalani Vassa. Jadi setelah
masa Vassa berakhir, umat Buddha memasuki masa Kathina atau bulan Kathina.
Dalam kesempatan tersebut, selain memberikan persembahan jubah Kathina, umat
Buddha juga berdana kebutuhan pokok para Bhikkhu, perlengkapan vihara, dan
berdana untuk perkembangan dan kemajuan agama Buddha.
Asadha
Kebaktian untuk memperingati Hari
besar Asadha disebut Asadha Puja / Asalha Puja. Hari raya Asadha, diperingati 2
(dua) bulan setelah Hari Raya Waisak, guna memperingati peristiwa dimana Buddha
membabarkan Dharma untuk pertama kalinya kepada 5 orang pertapa (Panca Vagiya)
di Taman Rusa Isipatana, pada tahun 588 Sebelum Masehi. Kelima pertapa tersebut
adalah Kondanna, Bhadiya, Vappa, Mahanama dan Asajji, dan sesudah mendengarkan
khotbah Dharma, mereka mencapai arahat. Lima orang pertapa, bekas teman
berjuang Buddha dalam bertapa menyiksa diri di hutan Uruvela merupakan
orang-orang yang paling berbahagia, karena mereka mempunyai kesempatan
mendengarkan Dhamma untuk pertama kalinya. Selanjutnya, bersama dengan Panca
Vagghiya Bhikkhu tersebut, Buddha membentuk Arya Sangha Bhikkhu(Persaudaraan
Para Bhikkhu Suci) yang pertama (tahun 588 Sebelum Masehi ). Dengan
terbentuknya Sangha, maka Tiratana (Triratna) menjadi lengkap. Sebelumnya, baru
ada Buddha dan Dhamma (yang ditemukan oleh Buddha).
Tiratana atau Triratna berarti
Tiga Mustika, terdiri atas Buddha, Dhamma dan Sangha. Tiratana merupakan
pelindung umat Buddha. Setiap umat Buddha berlindung kepada Tiratana dengan
memanjatkan paritta Tisarana ( Trisarana ). Umat Buddha berlindung kepada
Buddha berarti umat Buddha memilih Buddha sebagai guru dan teladannya. Umat
Buddha berlindung kepada Dhamma berarti umat Buddha yakin bahwa Dhamma
mengandung kebenaran yang bila dilaksanakan akan mencapai akhir dari dukkha.
Umat Buddha berlindung kepada Sangha berarti umat Buddha yakin bahwa Sangha
merupakan pewaris dan pengamal Dhamma yang patut dihormati.
Khotbah pertama yang disampaikan
oleh Buddha pada hari suci Asadha ini dikenal dengan nama Dhamma Cakka
Pavattana Sutta, yang berarti Khotbah Pemutaran Roda Dhamma. Dalam Khotbah
tersebut, Buddha mengajarkan mengenai Empat Kebenaran Mulia( Cattari Ariya
Saccani ) yang menjadi landasan pokok Buddha Dhamma.
Magha Puja
Hari Besar Magha Puja
memperingati disabdakannya Ovadha Patimokha, Inti Agama Buddha dan Etika Pokok
para Bhikkhu. Sabda Sang Buddha di hadapan 1.250 Arahat yang kesemuanya arahat
tersebut ditasbihkan sendiri oleh Sang Buddha (Ehi Bhikkhu:Bhikkhu yang
ditasbihkan sendiri oleh sang Buddha), yang kehadirannya itu tanpa diundang dan
tanpa ada perjanjian satu dengan yang lain terlebih dahulu, Sabda Sang Buddha
bertempat di Vihara Veluvana, Rajagaha. Tempat ibadah agama Buddha disebut
Vihara.
Penyebaran di Asia dan Indonesia
Peta penyebaran ajaran Buddha
Agama Buddha mulai berkembang di
India, yaitu tempat dimana Buddha Gautama mengajarkan ajarannya. Setelah
wafatnya Buddha Gautama, ajaran tersebut tidak lenyap begitu saja, melainkan
disebarkan oleh para pemuka agama sehingga bertahan sampai sekarang di berbagai
belahan dunia, khususnya di Asia
Penyebaran di India dan Asia
Tengah
Dimulai dari India, tempat dimana
Buddha Gautama lahir dan wafat. 100 tahun setelah Buddha mencapai Nirwana,
ajaran Buddha Gautama mulai memudar sehingga para biksu disana memutuskan untuk
mulai melestarikannya agar tetap hidup. Hal pertama yang dilakukan adalah dengan
membuat Dharma atau pengajaran. Di India jugalah tempat dimana mulai
terbentuknya aliran Mahayana dan Theravada akibat perselisihan antara kelompok
biarawan dan para kaum tua.Theravada umumnya mengajarkan bahwa tujuan tertinggi
adalah menjadi arahat, sedangkan Mahayana mengajarkan bahwa tujuan yang paling
berharga adalah dengan mencapai Kebuddhaan.
Selain melalui kaum
biarawan,agama Buddha juga disebarkan oleh raja-raja besar di India seperti
Raja Ashoka. Ia mengajarkan kepada rakyatnya untuk tidak berpikiran jahat
seperti serakah dan mudah marah. Ia menanamkan nilai-nilai moral, seperti
menghargai kebenaran, cinta kasih dan amal. Ashoka juga mengirim misionaris
Buddha keberbagai negara tetangga, termasuk ke Sri Lanka dimana mereka diterima
baik sehingga Sri Lanka menjadi basis agama Buddha.
Penyebaran di Asia Timur
Selama abad 3 SM, Raja Asoka
mengirimkan misionaris ke barat laut India yaitu Pakistan dan Afganistan. Misi
ini mencapai sukses besar karena kawasan ini segera menjadi pusat pembelajaran
agama Buddha yang memiliki banyak biksu terkemuka dan sarjana. Ketika para
pedagang Asia Tengah datang ke wilayah ini untuk berdagang, mereka belajar
tentang Buddhisme dan menerimanya sebagai agama mereka. Dengan dukungan dari
pedagang, biara gua banyak didirikan di sepanjang rute perdagangan di seluruh
Asia Tengah. Pada abad 2 SM, beberapa kota Asia Tengah seperti Khotan, telah
menjadi pusat penting bagi Buddhisme. Melalui Jalan Sutera inilah, pertama
kalinya orang Tiongkok (sekarang Cina) mengenal agama Buddha dari orang-orang
di Asia Tengah yang sudah beragama Buddha. Bentuk awal penyebaran agama Buddha
di Cina adalah dengan adanya penerjemah yang bertugas menerjemahkan teks
penting mengenai ajaran Buddha dari bahasa India ke bahasa Cina kala itu. Selain
itu, juga lahirnya berbagai karya seni dan pahat dimana patung-patung Buddha
dibuat. Bentuk perkembangan lainnya adalah dengan dibangunnya sekolah ajaran
Buddha di Tiongkok yang mencakup seni, patung, arsitektur dan filsafat waktu
itu. Ada pula biarawan Tiongkok yang pergi ke Semenanjung Korea untuk
memperkenalkan agama Buddha kepada kerajaan-kerajaan yang ada di Korea pada
waktu itu. Sehingga pada abad ke-6 dan abad ke-7, agama Buddha telah berkembang
di bawah kerajaan tersebut. Selain di Korea, Buddhisme juga berkembang di
kepulauan Jepang.
Penyebaran di Asia Tenggara
Pada awal era masehi, orang-orang
di berbagai belahan Asia Tenggara datang untuk mengetahui ajaran Buddha sebagai
hasil dari meningkatnya hubungan dengan para pedagang India yang datang ke
wilayah tersebut untuk berdagang. Pedagang ini tidak hanya berdagang di Asia
Tenggara, tetapi juga membawa agama mereka dan budaya dengan mereka. Di bawah
pengaruh mereka, orang-orang setempat mulai mengenal agama Buddha, tapi tetap
mempertahankan keyakinan lama dan adat istiadat mereka. Sejak masuk di
semenanjung Indocina (sekarang bagian Asia Tenggara), Buddhisme mulai masuk di
Birma, Siam (sekarang Thailand), Vietnam, semenanjung Malaya (sekarang Malaysia
Barat) dan kepulauan nusantara (sekarang Indonesia).
Penyebaran di Nusantara
Candi Borobudur, monumen Dinasti
Syailendra yang dibangun di Magelang, Jawa Tengah.Pada akhir abad ke-5, seorang
biksu Buddha dari India mendarat di sebuah kerajaan di Pulau Jawa, tepatnya di
Jawa Tengah sekarang. Pada akhir abad ke-7, I Tsing, seorang peziarah Buddha
dari Tiongkok, berkunjung ke Pulau Sumatera (kala itu disebut Swarnabhumi),
yang kala itu merupakan bagian dari kerajaan Sriwijaya. Ia menemukan bahwa
Buddhisme diterima secara luas oleh rakyat, dan ibukota Sriwijaya (sekarang
Palembang), merupakan pusat penting untuk pembelajaran Buddhisme (kala itu
Buddha Vajrayana). I Tsing belajar di Sriwijaya selama beberapa waktu sebelum
melanjutkan perjalanannya ke India.Pada pertengahan abad ke-8, Jawa Tengah
berada di bawah kekuasaan raja-raja Dinasti Syailendra yang merupakan penganut
Buddhisme. Mereka membangun berbagai monumen Buddha di Jawa, yang paling
terkenal yaitu Candi Borobudur. Monumen ini selesai di bagian awal abad ke-9.Di
pertengahan abad ke-9, Sriwijaya berada di puncak kejayaan dalam kekayaan dan
kekuasaan. Pada saat itu, kerajaan Sriwijaya telah menguasai Pulau Sumatera,
Pulau Jawa dan Semenanjung Malaya.
Akhir zaman kerajaan Hindu-Buddha
Pada akhir abad ke-13 seiring
berkembang pesatnya pengaruh Islam dari Timur Tengah, kerajaan-kerajaan Islam
mulai berdiri di Sumatera, dan agama Islam segera menyebar ke Jawa dan
Semenanjung Malaya lewat penaklukan dan penyebaran sistematis oleh sekelompok
ulama yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Akibatnya Buddhisme mengalami
penurunan popularitas dan pada akhir abad ke-15 Islam adalah agama yang dominan
di Nusantara dan Semenanjung Malaya. Buddhisme diperkenalkan kembali ke
Nusantara hanya pada abad ke-19, dengan kedatangan pedagang dan orang-orang
Tionghoa, Srilanka dan imigran Buddhis lainnya.
Candi-Candi Peninggalan Kerajaan
Buddha di Nusantara
Candi-candi peninggalan agama
Buddha di Nusantara kebanyakan terdapat di Jawa dan Sumatera, antara lain:
Candi Batujaya, stupa bata di
Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Diduga mulai dibangun pada abad ke-4 M, salah
satu bangunan Buddha tertua di Nusantara.
Candi Kalasan atau Tarabhavanam,
candi ini didirikan oleh Rakai Panangkaran pada tahun 778 M untuk memuja Dewi
Tara. Candi ini terletak di Yogyakarta.
Candi Sari, biara bertingkat dua
yang terkait dengan candi Kalasan.
Candi Sewu atau Prasada Vajrasana
Manjusrigrha, candi ini terletak di utara dari Candi Prambanan dan menurut
Prasasti Manjusrigrha dibangun sekitar tahun 792 M, dan dipersembahkan untuk
memuliakan bodhisatwa Manjusri.
Candi Mendut, terletak pada satu
garis lurus ke arah timur dari Candi Borobudur. Di dalamnya terdapat tiga arca
batu berukuran 3 meter yaitu Buddha Wairocana diapit bodhisatwa Awalokiteswara
dan Wajrapani.
Candi Pawon, candi ini juga
terletak pada garis lurus arah timur antara Candi Borobudur dan Candi Mendut.
Candi Borobudur, candi ini
merupakan candi Buddha terbesar di dunia. Candi Borobudur dibangun oleh
raja-raja Wangsa Sailendra pada abad ke-9 M dan bangunan candi terdiri atas
sepuluh tingkat. Candi Borobudur terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Candi Plaosan, candi ini terdiri
atas dua candi induk kembar, terletak di arah timur Candi Sewu.
Candi Sojiwan, candi Buddha ini
dikaitkan dengan tokoh Rakryan Sanjiwana atau Sri Kahulunnan Pramodhawardhani.
Pada bagian kakinya terukir kisah fabel Jataka.
Candi Banyunibo, candi Buddha
terletak dekat kompleks purbakala Ratu Boko.
Candi Muaro Jambi, kelompok candi
Buddha dari bata merah ini terletak di tepi utara sungai Batanghari dekat
muara, Kabupaten Muaro Jambi, terkait dengan Kerajaan Malayu di Jambi.
Candi Muara Takus, candi ini
terletak di Kabupaten Kampar, Riau.
Candi Bahal di dekat
Padangsidempuan, Sumatera Utara merupakan bangunan bercorak Buddha.
Candi Sumberawan, stupa ini
terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur, terkait kerajaan Singhasari.
Candi Brahu, candi dari bahan
bata merah di Situs Trowulan, Jawa Timur. Terkait kerajaan Majapahit
Candi Jabung, candi Buddha
berbahan bata merah ini juga terkait kerajaan Majapahit. Terletak dekat Probolinggo, Jawa Timur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar